Kamis, 06 November 2008

A Magical Moment that Puts Everything in A Slow Motion

I was standing in front of a door
I was afraid to open it….
Didn’t know what I will find behind it
Didn’t have the guts to take the chance…

So I close my eyes…
And pretend I didn’t see..

Suddenly I feel the wind breeze…
No.. it wasn't breezing…
It was dancing…
In a rhyme…
It was trying to tell me something…
In a way…
A magical moment, that puts everything in a slow motion…

Trying to pursue me and seduce me
“Open it… trust ur heart.. Open it…”
Whispering... shouting... over and over again..

I try hard to ignore the voices…
But it gets louder and louder…
I cant resist..
So I touch the door handle..
And open it…

There you were…
Standing in front of me with a smile…
A warm smile that shines like a sun…
I stood there…
Numb….
Watching your steps…
Seeking for answers...
Suddenly I smile…

And the wind is dancing again…
In a way…
A magical moment, that puts everything in a slow motion…

Rabu, 18 Juni 2008

CERITA MYO (bag.16)


Lalu Fajar bertemu Myo. Jelas saja dia menganggap Myo sama persis dengan cewek-cewek yang lain.

Mata Myo terlalu berbinar ketika melihat dirinya. Senyumnya juga mengembang terlalu lebar. Dan satu lagi, cewek itu mudah sekali dirayu!

Sebenarnya Fajar sudah mulai bosan dengan Myo. Mestinya dia meninggalkannya begitu saja dengan alasan seadanya. Tapi semakin mengenal pribadi Myo, dia semakin ngeri.

Cewek itu seperti sebuah benteng yang dibuat dari tumpukan kartu. Sekali dorong, benteng itu pasti hancur berantakan.

Myo memang tidak pernah bercerita tentang kenapa dia menangis ketika bertemu dengan dirinya di Starbuck. Fajar juga menghindari untuk bertanya kenapa dia begitu.
Tapi yang jelas, jujur saja cewek itu mengingatkannya pada dirinya sendiri dulu. Lugu, polos, penggugup dan selalu berusaha untuk tidak merepotkan orang lain.
Dan tangisannya itu, jelas tangisan patah hati.

Fajar memang kini sudah membeku, tapi dia tidak bisa menyakiti orang yang sifat dan keadaannya sama persis seperti dirinya sendiri.

Myo membuatnya tergoda bermain hati.

Selasa, 17 Juni 2008

Cerita Myo (bag.15)


Tepat pada hari itu, Fajar berencana menembak Lyla di konser James Blunt, musisi favorit Lyla. Tapi entah kenapa, Lyla malah memaksanya untuk pergi ke Plaza Senayan. Ternyata di sana Lyla memang sengaja menemui Kian dengan tujuan membuat mantannya itu kesal.

Hari itu hati Fajar hancur dan tidak akan pernah kembali utuh. Rasa cintapun tidak pernah mampir lagi di diri Fajar yang membeku.

Lalu dia berubah menjadi orang yang seenaknya.
Seenaknya saja mengumbar pesonanya kemana-mana...
Seenaknya saja membuat banyak cewek jatuh cinta dengan tatapan seperti pisau, aura lampu disko dan rayuan angin sepoi-sepoi...
Seenaknya saja bikin patah hati cewek-cewek yang mengaku mencintainya....

Fajar menikmati saat para cewek terlihat begitu desperate karena memohon cintanya. Dia juga tersenyum saat dia tahu mereka tak bisa menolak pesonanya. Fakta-fakta itu jelas meningkatkan harga dirinya sampai ke langit ketujuh.

Ketika Fajar melakukan itu semua, dia memilih untuk tidak bercerita banyak tentang dirinya. Hal itu penting agar hatinya selalu dalam keadaan aman. Dia tahu betul kalau "curhat" itu berbahaya. Fajar memang tidak mau lagi bermain hati. Semua masa lalunya disimpan di dalam sebuah kotak di hatinya dan hanya dirinya saja yang boleh tahu.

Cerita Myo (bag.14)


Gara-gara Fairy, Myo jadi semakin dekat dengan Fajar. Cewek bodoh itu jadi semakin berusaha berkonsentrasi untuk semakin jatuh cinta pada Fajar.

Memang, sih, hal itu wajar-wajar saja. Tapi masalahnya, obyeknya itu yang salah. Menelpon Fajar sama saja menyorongkan umpan ke mulut buaya.
Well, Fajar bukan buaya lagi, melainkan Kingaya alias rajanya buaya.

Dalam satu bulan, Fajar bisa berganti pacar 20 kali. Dengan alasan dia mudah bosan. Tapi hebatnya ketika dia melakukan itu, wanita-wanita itu tidak sakit hati.
Fajar memang mudah membuat wanita manapun jatuh cinta dengan pandangannya yang tajam seperti pisau dan aura seperti lampu disko.

Tapi Fajar bukan penjahat. Dia jadi playboy karena patah hati berat. Dari dulu Fajar memang sudah ganteng, hanya saja dia super lugu. Pada saat itu, memang banyak cewek yang mendekatinya, tapi dia hanya digunakan sebagai alat untuk dipamerkan. Sebut saja, menemani kakak kelasnya kondangan, sebagai gandengan ke prom night atau untuk memanas-manasi mantan atau gebetan seseorang.
Dia diperlakukan seperti barang, bukan manusia.

Padahal Fajar juga punya hati. Dia bisa saja jatuh cinta ketika disuruh menemani kondangan, digandeng kesana kemari atau berdansa ketika prom night.
Tapi cewek-cewek itu seperti tidak tahu. Mereka hanya senang ketika Fajar diam. Ketika Fajar bicara mereka jadi ilfil. Menurut mereka, Fajar terlalu bodoh dan lugu. Jadi sebaiknya dia diam saja agar tetap ganteng.
Diam seperti pajangan yang bodoh.

Itu semua belum apa-apa. Mimpi buruk Fajar terjadi dua tahun yang lalu.

Dua tahun yang lalu dia patah hati berat. Dia jatuh cinta pada salah satu cewek yang menggunakannya untuk memanas-manasi mantan pacar. Cewek itu namanya Lyla. Iya, Lyla... seperti judul lagu.

Lyla terobsesi dengan mantan pacarnya, Kian. Dia berkali-kali minta balik namun selalu ditolak. Terang saja mantan pacarnya begitu, dia itu playboy sejati.
Mana ada playboy sejati yang suka dikejar-kejar. Playboy sejati hanya mau mengejar. Bagi mereka cewek desperate itu sangat membosankan. Lebih membosankan dari lomba nyanyi seriosa. Jadi percuma saja Lyla menangis dan memohon padanya.

Saat itu Fajar yang seperti patung mendengarkan semua curhatan Lyla dan jadi jatuh cinta. Sampai suatu saat tanpa disadarinya, Lyla "meminjam" dirinya untuk membuat mantannya "terbakar".

Aksi Lyla berhasil. Kian memang terbakar. Begitu terbakar hingga gosong.

Playboy mana yang rela mantan pacarnya yang desperate gandengan dengan cowok yang 100X lebih ganteng dari dirinya?

Jadi ketika itu terjadi, Kian langsung menarik tangan Lyla dan menciumnya dengan kasar di depan banyak orang!
Fajar gantian terbakar melihat cewek yang dicintainya diperlakukan begitu kasar dan tidak hormat. Emosinya meningkat drastis hingga membuat asap keluar dari ubun-ubunnya. Fajar pun menghajar Kian membabi buta.

Tapi bukan terima kasih yang diterimanya dari Lyla. Lyla malah menghajarnya balik dengan kursi sambil memaki-makinya dirinya di depan banyak orang.
Fajar babak belur. Tapi keadaan hatinya jauh lebih parah. Hatinya pecah dan pecahannya berserakan di mana-mana.

Kamis, 12 Juni 2008

CERITA MYO (bag.13)


Sebenarnya feeling Myo hampir sama dengan Fairy. Tapi dia memilih untuk tidak mendengarkan suara hatinya yang berteriak-teriak untuk menyingkir dari Fajar.

Myo kini memang tidak percaya dengan suara hatinya sendiri. Dulu dia percaya 1000% kalau seseorang bisa dilihat hanya dari penampilan luar, kemasan, cover, pembungkus atau sampulnya. Tapi setelah dia salah menilai selama 4 tahun, akhirnya dia kapok!

Penampilan luar, kemasan, cover, pembungkus atau sampul memang tidak bisa menentukan apakah isinya bagus atau tidak. Itu pelajaran yang Myo ambil. Tapi bodohnya gara-gara itu dia memilih untuk tidak mendengarkan kata hatinya sama sekali. Kalau hatinya bisa menangis, mungkin dia akan berbisik "Kacang... kacang..."

Tapi Myo sudah membulatkan tekad. Kali ini dia akan mengerjakan segala sesuatunya berbeda dari dirinya yang dulu.

Senin, 09 Juni 2008

CERITA MYO (bag.12)


"Myo, aku enggak suka sama Fajar!"

"Hah? Kenapa?"

"Aku feeling dia itu playboy! Dari pertama kali aku ngeliat dia, aku udah tahu dia itu playboy! Playa!"

"Kenapa kamu bilang begitu?"

"Lihat, dong! Cara dia bicara... cara dia bersikap! Gombal... gombal... gombal!
Terus tangannya itu, main peluk-peluk aja! Terus, kamu bisa aja lagi dibegoin sama dia!"

"Peluk? Eh, tunggu, deh! Kapan kamu pernah lihat Fajar?A.. aku, kan, belum pernah ngenalin dia sama kamu?"

Fairy tertangkap basah. Dia tidak bisa mengelak. "A.. aku ngebuntutin kamu kemarin.."

Myo tertegun.

"Oke, aku salah! Aku ngebuntutin kamu! Tapi wajar aja aku begitu! Aku khawatir sama keadaan kamu.. habis kamu tiba-tiba pergi dalam keadaan nangis!"

"Kamu enggak usah khawatir, Fei! Aku baik-baik aja..."

"Myo, aku minta kamu hati-hati sama Fajar.. Dia itu terlalu berpengalaman. Aku aja belum tentu bisa lari dari gombalan dia, kamu lagi! Kamu itu, kan, jauh lebih lugu dari aku!"

"Aku udah enggak mau menilai orang dari covernya, Fei! Aku mau belajar untuk enggak ngejudge orang cepat-cepat..."

"Maksud kamu?"

"Belum tentu orang yang kelihatan playboy itu hatinya juga brengsek... Buktinya orang yang kelihatan alim sikapnya bisa lebih parah dari playboy..."

"Maksud kamu, Rossi?"

Lagi, sekali lagi Fairy menyebut nama Rossi.
Lagi, sekali lagi Myo menutup kupingnya sambil meringis.
Fairy memang tidak pernah bisa mengontrol ucapannya. Mulutnya los seperti benang layangan. Dia berulang kali membuat Myo teringat pada mantannya yang super alim tapi memiliki hati super kejam dan tidak berperasaan itu.

Mestinya mulut Fairy diplester atau volumenya di "mute" saja, sehingga dia tidak perlu mengatakan hal-hal yang membuat hati Myo meradang. Tapi jangan salah kira, Fairy tidak jahat. Dia hanya ember.

Lalu setelah nama itu disebut, Myo kembali menelpon Fajar.
Kali ini bukan 2 jam, tapi 4 jam.

Minggu, 08 Juni 2008

CERITA MYO (bag. 11)


Fajar duduk sekali di dekat Myo. Terlalu dekat sehingga rasanya semua udara yang harusnya dihirup Myo, dihirup olehnya.
Sebenarnya Myo jelas merasa tidak nyaman duduk sedekat itu dengan seorang cowok. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Lalu, Fajar langsung mengeluarkan rokok dan menyalakannya.
Dan pada semburan asap pertama, Myo langsung terbatuk-batuk.

"Eh, maaf cantik! Gara-gara aku, kamu jadi batuk!"
Myo menggeleng namun masih terbatuk-batuk hebat. Fajar mematikan rokoknya di asbak.
"Kalau kamu enggak suka aku ngerokok, aku berhenti ngerokok..."

Myo jadi tidak enak. Dia memang alergi pada asap rokok, tapi dia merasa bersalah karena batuknya membuat Fajar jadi tidak nyaman. Tapi bagaimana cara menahan batuk? Batuk yang ditahan suaranya akan terdengar aneh, kan? Dan pada saat itu Myo tidak mau terdengar aneh.

"Enggak.. enggak apa-apa, kok!"
Fajar tertawa, "Aku lihat ekspresi wajah kamu, cantik! Kamu enggak suka ngeliat aku ngerokok, kan? Oke, aku janji akan berhenti merokok mulai saat ini"
"Aku enggak begitu, kok, kalau kamu mau ngerokok, ngerokok aja!"

Tapi lalu Fajar memandang matanya dalam sekali. Seperti pisau yang membuat tubuhnya kaku tiba-tiba. Myo jadi salah tingkah.

"Kenapa cantik? Mata kamu kelihatan sembab begitu, sih? Kamu habis nangis, ya?"

Mata Myo memang sembab sekali. Sembab seperti mata orang Korea yang kantung matanya terlalu gendut.

"Mataku memang begini dari dulu..." Sergahnya cepat-cepat.

Fajar lalu tertawa keras,
"Cantik... cantik! Meski aku baru 2 kali melihat kamu, tapi aku enggak bisa lupa mata kamu yang lucu... yang kubil! Mata itu yang selalu aku ingat selama 2 minggu ini!"

Kata-kata Fajar membuat airmata Myo menetes.

"Kamu nangis, cantik? Aku enggak suka lihat kamu nangis... Aku lebih suka lihat senyum kamu..."

Lalu tiba-tiba Fajar merangkul Myo dan Myo tidak kuasa untuk tidak menangis di pelukannya.

Fairy melihat dan mendengar itu semua!
Dia terkejut, jadi itu yang namanya Fajar!
Cowok itu memang menarik sekali, dia seperti lampu disko yang menyala terlalu terang. Tapi selain itu, dia juga perayu berat!
Cewek seperti Myo dipastikan tidak berdaya menghadapi pria seperti Fajar.
He's a real killer!

Fairy lalu panik sendiri. Apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan sahabatnya?

CERITA MYO (bag.10)


"Myo! Jangan jadiin Fajar sebagai pelarian kamu!"
"Maksudnya?"
"Iya, kamu nelpon Fajar cuma supaya kamu enggak mikirin dia!"
"Dia?"
"Iya, dia! Dia Yang Namanya Tidak Boleh Disebut!"
"Voldemort?"
"Bukan! Rossi!"

Myo terkejut. Dia menutup kupingnya dengan ekspresi yang sedih. "Kenapa kamu sebut nama itu?!"

Fairy menutup mulutnya. Dia tidak sadar telah mengucapkan nama itu. Dia telah berjanji untuk tidak menyebut nama itu lagi di depan Myo selamanya!

Kini air mata Myo membuncah lagi. Raut wajahnya mendung lagi.
Hati Fairy jadi kacau.
Dia yang Namanya Tidak Boleh Disebut itu terlalu brengsek. Namanya bahkan tidak pantas lagi untuk didengar.
Dia yang Namanya Tidak Boleh Disebut telah membuat sahabatnya itu menderita.
Dia yang Namanya Tidak Boleh Disebut itu telah menipu Myo mentah-mentah.
Sebuah kesalahan yang tak pantas dimaafkan.

(PS : Aku capek mengetik Dia yang Namanya Tidak Boleh Disebut.. karena itu kita panggil aja namanya Rossi, deh! Myo tidak tahu ini!)

Fairy benci pada Rossi, lebih benci dari rasa benci Myo pada Rossi.
Karena itu dia ingin bertemu Rossi dan meninju wajahnya. Rossi memang pantas ditinju karena telah menyembunyikan sifat brengseknya di balik wajah alimnya itu.

"Hallo.. Fajar? Ketemu, yuk!"
Fairy menoleh. Itu Myo, sedang menelpon Fajar. Air mata Myo mengalir deras ketika dia mengucapkan itu. Tapi, Myo berusaha agar suaranya tidak terdengar sedang menangis, sehingga suaranya terdengar seperti orang Asma.

Setelah itu Myo pun bergegas pergi menemui Fajar.
Fairy mencoba menahannya karena dia khawatir Myo pergi dalam keadaan yang gamang. Lagipula, setahu dia, selama Myo hidup di dunia, dia tidak pernah mengajak cowok manapun pergi duluan!
It's so not her!

Tapi berkali-kali Myo bilang kalau dirinya tidak apa-apa. Myo bilang dirinya baik-baik saja. Dia pun memasang senyumnya yang paling lebar. Tapi hati Fairy sakit melihat Myo begitu. Hatinya sakit karena telah membuat sahabatnya itu kembali menangis. Dia hanya bisa berharap pertemuan Myo dan Fajar tidak membuat hati Myo semakin hancur.

Fairy pun memutuskan untuk membuntuti Myo!

Well, sebenarnya aku malas melakukan pekerjaan kurang kerjaan seperti ini. Tapi aku penasaran juga mengetahui apa yang akan terjadi pada si bodoh Myo. Maka lalu aku memutuskan untuk mengikuti aksi Fairy, membuntuti Myo!

Itu Myo sedang berdiri di sana, di depan kafe Starbuck dengan badannya yang melayang.

Itu Fajar sedang berjalan bergegas ke arah Myo dengan senyum lebar mengembang di wajahnya.

Lalu saat mereka berdua bertemu, Fajar langsung menarik tangan Myo masuk ke dalam kafe!

CERITA MYO (bag.9)


"Maksud kamu?"
"Iya, ceritain dong, siapa itu Fajar? orang mana, rumahnya di mana, terus apa dia itu tipe cowok yang suka dugem atau gimana?"

Myo tertegun. Itu pertanyaan mudah. Seharusnya dia tahu jawabannya.
Saat itu yang terlintas di benaknya adalah...
Satu. Kenapa dia bisa tidak tahu jawaban dari pertanyaan itu?
Dua. Kok bisa-bisanya dirinya tidak bertanya apa-apa tentang pria itu setelah menghabiskan waktu 20 jam menelpon?
Tiga. Kenapa Fajar hanya bercerita sedikit sekali tentang dirinya?

Lalu pertanyaan kedua Fairy lebih mengusik dirinya lagi.
"Selama ini, siapa yang lebih sering nelpon? Dia atau kamu?"

Myo tahu pasti jawabannya. Jawabannya adalah Dirinya sendiri A.K.A Myo!
Bandingannya adalah 1: 9. Fajar menelpon sekali, Myo sembilan kali.

Myo baru benar-benar sadar kalau dirinya sudah terlalu agresif selama ini.
Well, Myo tidak bermaksud genit, tapi tangannya selalu otomatis bergerak memencet hape Fajar setiap kali dia menerima SMS dari mantannya.

Ups! Sori, aku baru bercerita tentang ini.
Iya, SMS mantannya itu tidak datang hanya sekali, tapi dua kali, tiga kali, lalu sepuluh kali.

Mantannya itu selalu mengirimkan SMS yang membuat hatinya kacau.

Pertama. I Miss You
Kedua. I Will Always Love You
Ketiga. Suatu saat kita akan bersatu kembali
Keempat. Aku ingin kamu bahagia
Kelima. Aku pengen ketemu kamu
Keenam. Apa kamu mau ketemu aku?
Ketujuh. Aku enggak tahan lihat kamu marah sama aku
Kedelapan. Jangan cuekin aku
Kesembilan. Aku enggak cinta dia
Kesepuluh. Aku terpaksa...

Myo benci SMS-SMS itu. Sepertinya mantannya tidak rela membuat hidupnya tenang. Sepertinya dia ingin Myo selalu dalam keadaan menangis dan menderita selamanya karena sakit yang ditimbulkannya.

Setiap kali mendapat SMS, air mata Myo hampir tumpah. Lalu satu-satunya yang dia ingat hanyalah menelpon Fajar.

Mungkin karena itu pula, dia tidak sadar apa yang dia bicarakan dengan Fajar. Yang dia tahu, pujian-pujian Fajar sukses membuat air matanya tidak tumpah.

CERITA MYO (bag.8)


"Teet.. teet.. teeet"
Itu SMS dari mantannya. Isinya, "Apa Kabar?"
Myo merinding ketakutan. Kenapa mantannya itu masih mencoba menghubunginya? Mau apa dia?

Myo tidak boleh memikirkan orang itu. Myo sedang jatuh cinta dan seharusnya orang itu tidak bisa lagi mengacaukan pikirannya.

Myo mencoba loncat-loncat, lalu berdiri terbalik. Namun pikiran itu tidak juga pergi. Lalu dia mencoba melakukan lebih banyak lagi kegiatan, membersihkan rumah, mencuci, memasak, menggosok dinding (dan pembantunya pun mengalami kejadian super fenomenal- duduk manis di depan tivi satu hari penuh!).
Keringat Myo sudah mengucur deras, tapi pikirannya masih saja berkutat pada mantannya itu. Akhirnya Myo mengambil hapenya dan memutuskan untuk menelpon Fajar.

Untuk pertama kalinya, Myo menelpon cowok duluan. Rasanya aneh. Suara yang keluar pun terdengar aneh. Seperti nenek sihir. Tapi untungnya Fajar menyambut teleponnya dengan suka cinta.

"Hai Myo! Aku enggak nyangka kamu mau nelpon aku! Aku baru aja mau telpon kamu, kok bisa barengan begitu?"
"Be.. begitu?" Parau sekali suara Myo!
Kata-kata Fajar membuat hati Myo tenang.
"Kamu lagi ngapain?"
"Aku? Aku lagi ngapain? Eh, abis beresin rumah.."
"Serius? Kamu rajin banget, ya! Hm, calon istri yang baik, nih!"
Wajah Myo merah padam. Rasanya di kakinya ada jet yang membuatnya terbang menerobos langit-langit. Dia GR sekali!
Namun, dalam keadaan super GR, kata-kata yang bisa keluar dari tenggorokannya hanya, "Be.. begitu?"

Dasar Myo bodoh!

Fajar memang pria yang pintar bikin hati Myo senang. Myo merasa nyaman sekali bicara dengan orang itu. Bicara dengan Fajar seperti main ayunan di pagi hari dengan angin sepoi-sepoi yang menghembus dan membuat rambutmu menari. Nyaman sekali... sejuk sekali...
Rasanya Myo bisa tertidur pulas dengan suara Fajar yang masih terdengar di hapenya.

Karena itu pula, Myo jadi ketagihan menelpon Fajar.

Bukan cuma sekali, tapi dua kali, lalu tiga kali dan berkali-kali sampai tagihan pulsa membengkak.

Apakah Myo jatuh cinta? Myo tidak tahu.
Yang jelas sehabis menelpon Fajar, Myo seperti mendapat dopping. Senyumnya mengembang lebar sekali. Myo pun jadi senang bernyanyi-nyanyi sendiri. Kali ini dengan suara yang tidak parau.

Sebenarnya topik obrolan yang dibicarakan Myo dan Fajar topiknya selalu tidak penting. Suatu waktu mereka membahas tentang makanan favorit Myo lama sekali. Di waktu yang lain mereka membicarakan tentang hobi baru nenek Myo. Lain kali lagi, mereka berbicara tentang laptop Myo sampai 3 jam.

Myo tidak sadar kalau semua topiknya selalu tentang Myo! Mereka jarang sekali membicarakan tentang Fajar.

Selama 2 minggu kenalan dan 10 kali menelpon yang masing-masing berdurasi 2 jam, Myo hanya dapat sedikit sekali info tentang Fajar.

Tapi Myo tidak sadari itu sampai suatu kali Fairy datang dan meminta Myo bercerita tentang siapa itu Fajar.

Kamis, 29 Mei 2008

CERITA MYO (bag.7)


Berita Myo bertemu dengan Fajar sudah menyebar kemana-mana. Lebih cepat dari kecepatan cahaya. Itu yang Myo rasakan.

Myo pantas saja berpikir begitu, semua orang menatapnya penuh harap. Mereka kelihatan sangat penasaran.

Well, jangan salahkan mereka karena bersikap begitu. Ibu Myo bercerita terlalu heboh tentang Fajar. Ibunya bilang Fajar mirip sekali dengan Del Piero. Tepatnya Del Piero yang sedang berbelanja di supermarket.

Myo tidak terlalu mengerti sepak bola. Karena itu dia tidak tahu siapa itu Del Piero. Setengah mati hatinya ingin bertanya. Tapi belum apa-apa, orang sudah mengernyitkan dahi mereka. Myo jadi takut pertanyaannya mengganggu. Jadi dia diam saja. Pura-pura tahu.

Lagipula pertanyaan itu tidak terlalu penting. Yang Myo rasa di hatinya ada banyak kupu-kupu.

Pertemuan 10 menit bersama Fajar tiba-tiba saja menghapus semua kesedihannya. Air matanya menguap entah kemana.

Myo jarang-jarang bertemu dengan orang semempesona Fajar. Buktinya selama 23 tahun hidup di Bumi, dia baru satu kali berhadapan dengan mahluk seperti itu.
Apalagi mahluk super charming itu bilang kalau dia suka senyumnya.
Siapa yang bisa tidur setelah itu terjadi?

Rabu, 28 Mei 2008

Iklan dulu ya...

Iklan dulu yah... Aku lagi ngantuk banget. Kenapa ya? Pengen tidur terus ni... Terus gak konsen kerja pula.. Gimana ini? Miaw...

Selasa, 27 Mei 2008

CERITA MYO (bag.6)


BAB 2
THE PLAYA


Myo dalam keadaan rapuh. Dan satu-satunya yang dia butuhkan adalah pujian. Seseorang yang bisa meyakinkan dirinya kalau dirinya itu cukup berharga. Karena itu pertemuannya dengan Fajar sama sekali tidak bisa disalahkan.

Myo tidak pernah menyangka kalau ajakan ibunya ke sebuah hypermarket bisa membuatnya mengenal pria se-good looking Fajar.
Pada waktu itu sebenarnya Myo merasa dirinya sangat berantakan. Dia sedang kesusahan mendorong troli yang disesaki oleh berbagai macam barang. Ibunya itu memasukkan hampir semua barang yang tertangkap oleh matanya.

Myo sebenarnya benci jalan-jalan di hypermarket itu. Sebotol Sprite bisa membuatnya menangis dan sekantong Happytos bisa membuatnya mual tiba-tiba.
Barang-barang itu dan segambreng barang lainnya dulu sering diminta oleh mantannya dan membuatnya hampir bangkrut. Well, mantannya itu memang hobi jajan dan entah kenapa alat pembayarannya selalu keluar dari dompet Myo.
Ok, enough with the flash back!

Ketika Myo sedang terjebak dilema dalam memilih apakah Susu Indomilk lebih baik dari Susu Ultra, ada seorang pria yang mengikuti gerak-geriknya dari tadi.
Saat Myo mengangkat tangan kanannya, pria itu juga mengangkat tangan kanannya juga. Lalu ketika Myo membolak-balik karton susu itu, si pria juga melakukan hal yang sama.
Awalnya Myo piker dirinya hanya berhalusinasi, tapi saat dia melirik cermin yang terpasang di sisi lemari pendingin, dia baru sadar kalau ada mahluk yang mengikutinya dari tadi.

Mahluk itu ganteng sekali. Hidungnya mancung dan alisnya tebal. Tatapan matanya seperti pisau yang mengiris-iris hati siapapun yang melihatnya. Pria itu berdiri di sana seperti mahluk dari alam lain. Dia terlalu syahdu, bahkan bayangannya di cermin bisa membuat sekujur tubuh menjadi kaku.

“Hai”

Myo menoleh. Mata pria itu tidak kosong. Jiwanya pun sepertinya benar-benar berada di sini. Myo mengalihkan pandangannya pada kupingnya, tidak ada earphone tergantung di situ.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya Myo tersenyum.

“Hai”

Dan rasanya pada saat itu semesta pun ikut tersenyum bersamanya.

Pria itu bernama Fajar.
Dia banyak bicara tentang dirinya. Tingginya 175 cm dan beratnya kira-kira kurang dari 70 kg (Well, sebenarnya bukan Fajar yang mengatakan ini, fakta ini hanya dikira-kira sendiri oleh Myo).
Fajar bekerja di sebuah perusahaan properti. Dia lebih suka susu Indomilk daripada susu Ultra. Fajar suka olahraga dan pergi ke gym seminggu sekali. Selain itu dia juga bilang kalau dia suka senyum Myo.

Myo diam saja saat Fajar mengatakan itu. Padahal pada waktu itu, jantungnya langsung berakrobat hebat.

Ibu Myo sebenarnya melihat kejadian itu dari jauh. Dan beliau tidak sampai hati mengganggunya dan membuat senyum Myo lenyap. Jadi dia memilih untuk mengintip dari balik rak minuman softdrink.

(to be continued)

CERITA MYO (bag.5)



“Myo, kamu harus jatuh cinta lagi!” itu saran Fairy setengah memakasa pada suatu pagi.

Fairy benar. Myo harus jatuh cinta lagi. Hanya dengan jatuh cinta dia bisa kembali jadi orang normal. Tapi jatuh cinta pada siapa?
Sejak Fairy bilang begitu, pikiran Myo jadi melayang-layang. Matanya menelisik setiap sudut yang dilaluinya. Dia memperhatikan setiap pria yang lewat di depannya.
Tapi Myo tidak punya pemicu untuk jatuh cinta. Pria-pria itu terlihat sangat dingin. Mereka terlalu sibuk dan asik dengan dirinya sendiri. Mereka berjalan sangat cepat menuju tujuan masing-masing dengan earphone terpasang di kuping mereka. Mata mereka menatap, tapi jiwa mereka tidak ada di situ. Myo berusaha tersenyum pada mereka, tapi mereka diam saja.

Lalu bagaimana dia bisa jatuh cinta?
(to be continued)

CERITA MYO (bag. 4)


Myo sudah terlalu kacau. Di dalam hati, dia tidak rela juga mengacaukan dirinya sendiri. Lagipula semua orang sepertinya merasa terganggu dengan keadaannya yang labil. Karena itu dia memutuskan untuk bersikap normal. Dia berusaha menyibukkan dirinya sendiri. Begitu sibuk, hingga semua berjalan begitu cepat.

Myo tidak mau melihat jam. Dia ingin melupakan waktu. Myo memenuhi semua detik dalam harinya dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Myo berangkat kerja setelah sholat Subuh dan sampai di kantor jam 6 pagi. Kantornya baru buka 2 jam kemudian, sehingga setiap hari Myo harus menunggu di depan lobby.

Dan ketika itu terjadi, Myo berusaha untuk tidak melamun. Dia mengeluarkan laptopnya dan mengerjakan semua tugasnya (yang memang selalu dibawanya pulang ke rumah). Dan ketika dia melakukan itu, dia tidak bisa diganggu oleh apapun.
Gara-gara itu pekerjaannya sudah selesai, tepat ketika kantornya dibuka.

Mestinya setelah itu Myo bisa santai karena semua pekerjaannya hari itu sudah selesai. Tapi Myo menolak bersantai dan menghindari resiko melamun. Dia memilih untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan besok. Dan pekerjaan besok lusa dibawanya ke rumah untuk dikerjakan sampai larut malam.

Dan begitu seterusnya dilakukan berulang-ulang seperti lagu yang membosankan.
Sampai suatu hari Myo sudah menyelesaikan semua pekerjaannya untuk satu bulan ke depan.

Mestinya, sih, Myo pingsan karena memaksakan dirinya bekerja terlalu keras. Tapi entah kenapa, Myo tidak pingsan. Begitu takutnya Myo melamun, sampai-sampai dia tidak mendengar kalau tubuhnya berteriak-teriak meminta istirahat.

Kini di mata Myo ada lingkaran hitam besar.

Aku sebal melihatnya. Rasanya aku ingin mengambil spidol dan menghubungkan matanya dengan garis hitam. Jadi dia terlihat seperti cewek berkacamata yang bodoh.
Dasar Myo bodoh!

Eh, oke, kembali ke Myo!

Atasan Myo bosan melihat Myo bekerja terus, jadi dia menyuruh Myo cuti sebulan. Dalam hati Myo berteriak agar bosnya tidak melakukan itu. Apa yang harus dia lakukan dalam satu bulan?
Tapi lalu dia memilih diam karena tiba-tiba muncul pemikiran kalau bosnya itu mungkin bosan melihat dirinya.

Akhirnya Myo kehilangan alasan untuk sibuk. (to be continued)

Jumat, 23 Mei 2008

CERITA MYO (bag.3)


Jadi jomblo tiba-tiba memang tidak enak.
Sudah 5 taun, Myo selalu punya alasan kenapa harus melirik HP nya setiap 5 detik sekali untuk mengecek apakah ada SMS masuk dari mantan kekasihnya atau tidak (karena HP nya di silent - lagi lagi dengan alasan agar tidak mengganggu orang lain) atau apakah sinyal HP nya full sehingga mantannya itu tidak perlu mengomel karena sulit menelponnya. Belibet....

Selain itu, selama lima tahun ini pula Myo menyingkirkan semua teman cowoknya dengan cara yang bodoh. Myo sengaja membuat teman-teman cowoknya ilfil padanya agar mantannya itu mendapat garansi kalau Myo adalah cewek yang 100% setia.

Benar-benar konsep kesetiaan yang bodoh. Dasar Myo bodoh!

Padahal waktu itu Myo banyak yang naksir. Sebagian besar dari mereka good looking. Tipe pria yang bisa membuat cewek manapun menoleh berkali-kali sampai tidak sadar menabrak cermin.

Tapi Myo merasa berdosa kalau bersikap terlalu ramah pada mereka. Dia merasa ada mahluk penjaga norma yang selalu berkeliaran di dekatnya. Mahluk itu siap mencatat apapun dilakukan Myo di atas buku kecilnya. Myo jadi parno sendiri.
Myo juga takut kalau cowok-cowok itu membuat mantannya itu cemburu. Karena itu Myo berusaha sesedikit mungkin berinteraksi dengan mereka. Dia berusaha jutek berat atau sombong gila.

Gara-gara itu Myo dibilang Miss Jutek dan Si Sombong. Well, menurutku wajar saja dia dibilang begitu. Masih untung dia enggak dibilang orang gila!
Dasar Myo bodoh!

Sekarang Myo tidak tahu kenapa dia harus punya HP. Kadang dia ingin memasukkan HP nya itu ke dalam gelas berisi air putih. Kadang dia juga ingin mencelupkan HP ke saus tomat. Ketika dia tidak memikirkan itu, dia memilih untuk mematikan HP nya. Dengan begitu, dia tidak perlu menebak-nebak ada SMS/telepon masuk atau tidak.

Gara-gara HP Myo mati, banyak hal yang terjadi.

Bos Myo ngomel-ngomel karena dia sulit menghubunginya. Teman-teman Myo menyangka Myo gantung diri karena terlalu khawatir. Sementara keluarganya sibuk berdoa bersama agar Myo baik-baik aja.

Sebenarnya mereka konyol melakukan itu.
Ketika mereka begitu, Myo sedang bengong melihat orang gila lewat di sebuah taman. Orang gila itu sedang diikuti anak-anak yang jahil. Mereka terus menerus mengejeknya. Myo heran kenapa mereka bisa seberani itu. Ketika Myo seumur mereka, Myo paling takut sama orang gila. Dia bisa tiba-tiba berteriak atau kabur ketika melihat orang yang ciri-cirinya seperti orang gila (pakaian berantakan, rambut awut-awutan). Bahkan dia pernah kabur melihat adiknya sendiri karena adiknya terlihat seperti orang gila (padahal waktu itu adiknya baru bangun tidur).


Myo tidak sadar kalau kini penampilannya terlihat beda tipis dengan orang gila itu. Kacau!
(to be continued)

Kamis, 22 Mei 2008

CERITA MYO (bag.2)


Myo memandang bayangannya sendiri di kaca. Setengah dari dirinya tidak yakin kalau dirinya mampu bertahan dari angin tornado sehebat ini.
Dia mencoba tersenyum, tapi senyum yang keluar malah terlihat seperti orang sakit gigi. Dia mencoba meloncat-loncat agar dirinya bisa semangat, tapi dia malah terjatuh dan terantuk lemari gara-gara tubuhnya terlalu melayang.

Semua orang berusaha membuat Myo untuk keluar kamar. Cewek itu sudah mengurung diri lebih dari satu minggu. Makan saja tidak, paling hebat minum air. Bahkan perutnya sampai kembung gara-gara terlalu banyak minum air. Myo kurus tapi perutnya kembung.

Myo senang berada di dalam kamar. Menurutnya kamar adalah satu-satunya tempat di mana dia bisa menjadi diri sendiri. Hanya di kamar, dia bisa mengaku kalau dia patah hati berat. Meskipun dia hanya berani mengatakannya pada cermin berlis hitam yang tergantung di kamarnya. Tapi dia sudah puas.

Sebenarnya percuma saja dia melakukan itu. Cermin itu tidak bisa mengomentari semua curhatannya. Cermin itu juga tidak bisa berteriak menyuruh Myo keluar kamar dan makan agar perutnya tidak sekembung itu.

Satu minggu lebih Myo tidak mau bertemu siapa-siapa, sampai akhirnya sahabatnya Fairy memaksa masuk ke kamarnya.

Ketika Fairy masuk, Myo berusaha bersikap biasa saja. Dia mencoba terlihat ceria dan menawarkan Fairy apa saja yang bisa dimakan di tempat itu. Meskipun sebenarnya hal ini percuma saja karena di kamar Myo hanya ada satu botol air minum berukuran besar.
Myo berusaha tertawa. Tapi tertawanya maksa sekali. Ketika dia tertawa, tanpa sadar air matanya mengalir sederas air hujan.

Fairy jadi ikut menangis melihat sahabatnya seperti itu. Tapi, dalam tangisnya Myo malah bertanya kenapa Fairy menangis tanpa sebab. Begitu sedihnya Myo, sampai dia tidak tahu kalau dirinya saat itu sedang menangis. Hal ini malah membuat Fairy menangis semakin menjadi-jadi.
Well, sejujurnya, bagiku mereka terlihat seperti dua orang bodoh ketika melakukan itu.

Akhirnya Myo mau juga keluar kamar, dan lebih jauh lagi keluar dari rumah.

Myo merasa asing pada sinar matahari. Rasanya dia merasa terekspos sedemikian hebat sehingga membuatnya tidak punya privasi. Sepertinya matahari selalu mengejeknya dan berteriak "Emang enak jomblo?!!"

Karena itu Myo memutuskan memakai kacamata hitam kemana-mana. Bahkan di saat malam tiba, dia masih tidak mau melepaskan kacamata itu. Dia merasa matahari masih mengintip dan kembali berseru "Emang enak jomblo?!!"(to be continued)

Rabu, 21 Mei 2008

CERITA MYO (bag.1)


CERITA MYO
(believe me, this is just a fiction)

Myo bingung setengah mati. Kekasihnya yang seharusnya melamarnya pada bulan Oktober, malah bilang putus di bulan yang sama. Myo enggak tahu harus berbuat apa. Setengah dari hatinya ingin menjerit histeris, setengah hatinya lagi ingin menangis.
Sebenarnya Myo tahu benar betapa brengsek kekasihnya itu. Kekasihnya itu selalu terlihat tersiksa ketika bersamanya. Entah kenapa dia begitu, padahal Myo selalu berusaha membuatnya senang. Myo tidak pernah berani membuatnya dalam keadaaan tidak bahagia satu detik pun. Cewek ini selalu menuruti apa yang kekasihnya itu minta. Dia juga selalu berusaha memajang senyum, meskipun hatinya meringis atau kesal menahan emosi.

Bagi Myo dia memang wajib melakukannya. Bagi Myo menunjukkan emosinya sendiri adalah dosa. Terlarang.

Sebenarnya Myo tidak sakit jiwa. Namun, dia memang selalu berada dalam kondisi “mengerti”. Mengerti perasaan orang lain, mengerti mengapa diri sendiri harus mengalah, mengerti mengapa orang lain posisinya adalah lebih penting daripada dirinya sendiri.

Itulah kenapa dia enggak protes ketika ayahnya berkata kalau kakaknya adalah anak cewek satu-satunya di keluarga pada calon besannya (dan melupakan fakta kalau diri Myo eksis). Myo juga bersikap biasa saja ketika dirinya terpaksa tidur di ruang tamu di saat saudaranya memutuskan tinggal di kamar miliknya selama satu bulan.

Jadi ketika tiba-tiba kekasihnya itu mengucapkan “putus” tiga kali berturut-turut tanpa henti di telepon, Myo bingung harus berbuat apa. Myo bingung harus marah atau menangis. Kalaupun dia marah, itu pasti akan sangat mengganggu perasaan kekasih, eh, mantan kekasihnya itu. Lagipula, tangisannya bisa saja membuat perasaan mantan kekasihnya itu jadi tidak enak.

Tapi yang Myo rasa, hatinya melesak sampai ke dalam. Tulang dadanya rontok satu demi satu dan hatinya seperti dihujam-hujam dengan pisau. Mestinya dia menangis keras, karena dia sudah terlalu banyak buat mantannya yang tidak tahu diri itu. Empat tahun Myo menunggu sang mantan pulang dari negeri seberang dengan setia. Dua tahun Myo membiayai kehidupan mantannya yang belakangan kehabisan uang karena sang mantan terlalu sering menyenangkan dirinya sendiri. Satu tahun Myo berkutat dengan dirinya sendiri karena bimbang apakah pantas bertanya “Apakah kamu mau melamarku?” pada mantannya itu. Namun semuanya itu dijawab mantannya dalam waktu kurang dari 1 menit. “Putus!”

Dan Myo pun bingung, dia harus bagaimana.
Kasihan Myo salah sendiri dia lahir dengan pribadi yang selalu berada dalam bayang-bayang. Mestinya dia tahu di mana posisinya. Mestinya dia lebih punya sikap dan berkata dengan lantang bahwa dirinya tak pantas diremehkan. Myo bukan cewek bodoh. Dia juga bukan cewek yang menyebalkan untuk dilihat. Myo mestinya tahu kalau dirinya itu cukup menarik. Dia seharusnya juga sadar bahwa mantannya tidak seganteng itu untuk berbuat sangat kurang ajar dan melecehkan. Mestinya Myo menyerang si mantan dengan jurus Rasengan milik Naruto dan semuanya kembali baik-baik saja.

Namun Myo itu ya, Myo…

Dan mantannya itu kini tetap bisa hidup tenang tanpa harus merasakan betapa sakitnya diserang oleh energi biru milik sang ninja. (to be continued)

Senin, 05 Mei 2008

Ya Allah....

Ya Allah...
Aku sangat menikmati berada di rengkuhanMU...
Aku sangat menikmati cinta yang ENGKAU tunjukkan padaku...

Cinta... cinta aku..
Menjadi seseorang yang menyadari kasih sayangMU...
In love with ur universe, God...

Minggu, 20 April 2008

How do I feel?

How do I feel now?
I don't know..
Gue juga enggak mau orang tahu apa yang gue rasakan...
Yang jelas rasanya...
Sakit...
Sakit...
God, aku enggak nyangka kalau aku harus merasakan kisah sesakit ini...
Kenapa ada orang yang tega sejahat itu?